Selasa, 26 Desember 2017

Pertemuan Pertama

BARU KENAL

Apa jadinya bila pertemuan pertama telah dibumbui prasangka? Kata orang dia begini, mereka bilang dia begitu. Sedikit banyak pikiran akan dibayangi oleh "penilaian orang lain" terhadap sosok seseorang yang akan ditemui.

Tentu baik bila yang di dapat adalah gambaran "penilaian positif" tentang sosok tersebut sehingga membuat diri siap dan lebih enjoy untuk bertemu. Tetapi bagaimana bila sebaliknya yang didengar lebih banyak adalah "penilaian negatif" nya.

Penilaian negatif tersebut tentu akan menyimpan prasangka negatif dalam diri terhadap seorang sosok. Penilaian yang sangat subjektif. Karena negatif bagi satu orang belum tentu negatif bagi orang lain. Masing-masing punya pengalaman pertemanan yang berbeda. Ada banyak kondisi yang menciptakan suatu penilaian menjadi positif atau negatif terhadap pribadi seseorang.

Apa jadinya bila diri telah "terkontaminasi" dengan penilaian negatif dari orang lain sebelumnya ketika menilai seorang sosok manusia. Segala kebaikan yang sejati pun akan terlihat sebagai kebohongan. Mengapa? Karena telah tumbuh "prasangka" yang dipengaruhi penilaian orang lain sebelumnya.

Maka selayaknyalah kita menzerokan penilaian pada orang yang baru akan kita kenal. Agar penilaian itu menjadi murni berdasar pengalaman kita sendiri saat berinteraksi dengannya. Sehingga interaksi yang terbangun dengan positif akan berbuah keakraban dan kehangatan. Silaturahim pun akan tumbuh dan bersemi dengan baik.

Sukmadiarti Perangin-angin

#positiveconsulting

Sabtu, 23 Desember 2017

The Power Of Forgiveness


Tahukah anda mengapa memaafkan (forgiveness) itu jauh lebih baik dari meminta maaf? Sehingga dalam hadist pun dikatakan bahwa orang yang memaafkan terlebih dahulu jauh lebih mulia dari yang meminta maaf.
Ternyata begitu banyak manfaat dari memaafkan, baik dalam hubungan personal maupun interpersonal.
Ketika anda merasa kesal, marah, tidak suka pada orang lain karena satu dan lain hal, apa yang anda rasakan? Tidak mau dekat, malas bertemu, tidak mau bicara, pikiran menjadi negatif, mood jadi berubah, perasaan tidak nyaman, dan sejenisnya.
Perasaan tidak suka itu membuat diri secara pribadi mengalami pergolakan dan berakibat menjadi tidak produktifnya pikiran, perasaan, dan perilaku. Selain merugikan bagi pribadi, hubungan satu dan lainnya pun menjadi semakin berjarak.
Berharap suatu saat orang yang tidak disukai akan berubah, menyadari kesalahannya, dan meminta maaf. Dan selama masa pengharapan tersebut, jarak terus terbentang.
Iya kalau yang bersangkutan merasa, sadar, kemudian dengan rendah hati meminta maaf. Bila tidak? Bila sebaliknya, yang bersangkutan juga berharap yang sama dari diri kita? Tentu diri akan kehilangan banyak energi dan pertemanan.
Untuk itulah, mengapa memaafkan jauh lebih baik. Baik bagi diri sendiri, hubungan dengan sesama, serta hubungan dengan Sang Pencipta.
Sukmadiarti Perangin-angin, M.Psi, Psikolog
#forgiveness
#positiveconsulting